Terpilih menjadi salah satu dari 25 orang mahasiswa Unpad yang mendapatkan kesempatan mengabdi di Indonesia Timur adalah suatu pencapaian terhebat yang pernah saya raih. Berbekal ilmu dan pengalaman selama hidup dan berkuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, saya berani berangkat dan menjadi lebih bermanfaat untuk masyarakat terutama masyarakat di Negeri Wakasihu, Kec. Leihitu Barat, Kab. Maluku Tengah, Pulau Ambon. Berlayar menggunakan kapal laut selama 4 hari, banyak pelajaran yang di dapat selama perjalanan, salah satunya mengenai bagaimana bertahan hidup dalam segala situasi kondisi, bagaimana harus bisa beradaptasi dengan perbedaan yang ada antara kami dari jawa dengan para penumpang dari Indonesia timur, dan pelajaran mengenai harus saling bekerjasama agar semua hal menjadi lebih mudah.

Sampai di Negeri Wakasihu, saya dan teman-teman mulai beradaptasi dan menjalankan seluruh program kerja yang dibawa dari Unpad untuk dapat dirasakan manfaatnya oleh mereka, hal ini berlangsung selama tiga minggu. Jauh dari Pulau Jawa, kami disambut baik oleh masyarakat sana lalu hidup dan tinggal bersama di rumah penduduk. Program kerja berjalan dengan lancar dan mereka pun antusias. Pandangan awal kita mengenai masyarakat ambon pun berubah ketika tahu bahwa mereka bahkan lebih ramah lebih sopan dibandingkan orang-orang di Pulau Jawa. Budaya dan kebiasaan masyarakat disana benar-benar unik, dimulai dari kegiatan rutin setiap hari yaitu memakan pisang goreng dengan sambal dan teh manis hangat, mencelupkan jari ke dalam wadah berisikan air garam sambil membaca doa sebelum makan, menari ‘Ajojing’ jika sedang ada acara besar seperti pesta pernikahan atau pelantikan Raja (Kepala Desa) baru, menyalakan musik lagu-lagu ambon sangat keras di rumah dan di angkutan umum namun tidak ada yang merasa terganggu karena semua orang suka musik sehingga ada julukan ‘Ambon City Of Music”. Kedatangan kami benar-benar membuat masyarakat senang, program kerja seperti cek kesehatan gratis, senam pagi setiap hari minggu, pergi mengajar di SD, SMP, dan SMA, pembangunan fisik berupa gapura tempat wisata Batu Suanggi yang merupakan ikon dari Negeri Wakasihu, pemetaan wisata dan tanaman obat-obatan, serta mengadakan diskusi ringan dengan para pemuda dan pemerintah desa disana mengenai hal-hal apa saja yang sedang menjadi permasalahan di Negeri Wakasihu.

Tidak lupa juga keindahan alamnya yang benar-benar memanjakan mata, pantai di Indonesia timur memang juara! Banyak sekali pantai dengan keunikan masing-masing seperti pantai dengan ombak yang sangat hebat, pantai yang memiliki genangan air dibatasi oleh pasir namun rasa airnya tidak asin melainkan tawar. Sunrise dan sunset serta langit yang cerah pada malam hari bahkan saya dan teman-teman bisa melihat galaksi hanya dengan mata telanjang, Batu Suanggi yang merupakan ikon Negeri Wakasihu, sungai kecil berisikan belut yang seukuran paha orang dewasa, serta Tebing tinggi yang bisa melihat keseluruhan Negeri Wakasihu dan Laut Banda dari atas. Indonesia timur memang memiliki harta karun keindahan yang luar biasa!

Setiap tempat pasti memiliki keunikan dalam bidang kuliner. Saya dan teman-teman hidup sejahtera disini karena selalu diberi makanan yang enak dan bergizi. Setiap hari kami makan ikan yang berbeda-beda dengan berbagai macam olahan seperti Ikan colo-colo, Ikan kuah putih, Ikan kuah kuning, dan semuanya adalah ikan laut. Lalu ada Nasi Kelapa yaitu nasi ketan dengan parutan kelapa dibungkus daun pisang yang selalu menjadi menu sarapan, pisang goreng dengan sambal yang juara, Kui Cara yaitu makanan ringan gurih dari terigu dengan toping yang enak, Nasi Pulut yaitu nasi ketan yang disiram dengan fla pandan manis dan parutan kelapa serta gula merah, Roti Goreng isi kentang yang jadi favorit saya, Sagu tumbuk yaitu olahan sagu yang manis, Sagu asli yang tidak ada rasanya tapi yang penting sempat mencoba hehe, dan tentunya Papeda dengan Ikan Kuah Kuning yang sangat enak! Indonesia Timur makanannya juga juara!

Satu hal yang luar biasa lagi adalah kami beruntung dan mendapatkan suatu kehormatan untuk melihat langsung dan terlibat dalam kegiatan Pelantikan Raja Negeri Wakasihu yang terakhir dilaksanakan 12 tahun yang lalu. Kami membantu segala persiapan yang dibutuhkan untuk Pelantikan Raja seperti memasak masakan khas bersama ibu-ibu di Negeri Wakasihu, memasang tenda-tenda dan baliho, melihat proses latihan tarian-tarian adat Negeri Wakasihu seperti Tarian Cakalele, Tarian Petik Cengkeh, Tarian Kora-Kora, melihat orang-orang yang menyanyi menggunakan bahasa asli Wakasihu, serta ikut bersih-bersih Negeri Wakasihu. Saat acara pelantikan dimulai, semua Negeri (Desa) datang ke Negeri Wakasihu untuk menyaksikan, orang-orang penting seperti Bupati pun datang dan diliput oleh awak media. Acara berlangsung tiga hari dengan rincian hari pertama pelantikan secara adat, hari kedua pelantikan secara resmi oleh bupati, hari ketiga adalah pesta rakyat semua masyarakat menari ‘Ajojing’ dari malam hingga pagi. Semua program kerja pun diselesaikan sebelum pelantikan di mulai, sesudah pelantikan selesai saya dan teman-teman mulai berbenah untuk acara perpisahan karena waktu pengabdian telah berakhir.

Acara perpisahan dimulai dengan acara senam pagi bersama karena ini salah satu program kerja favorit masyarakat disana, lalu mengadakan acara intim bersama Keluarga Piara (Keluarga Asuh) untuk bercerita dan mengucapkan terima kasih atas segala yang diberikan dan sudah mau mengangkat kami menjadi anak asuh mereka, di lanjut dengan acara perpisahan dengan masyarakat Negeri Wakasihu pada malam hari dengan memutarkan video selama kami mengabdi dari hari pertama hingga terakhir, menampilkan nyanyian yang diperuntukan bagi masyarakat Negeri Wakasihu lalu ditutup dengan Ajojing dan makan-makan bersama. Hari-hari terakhir adalah hari-hari yang sangat menyedihkan, tidak mau berpisah, kami harus meninggalkan kehangatan Negeri Wakasihu dan entah kapan akan ada kesempatan untuk kembali dan berjumpa lagi dengan mereka.

Hari terakhir kepulangan, hampir seluruh masyarakat Negeri Wakasihu ikut mengantar kami ke Pelabuhan menggunakan mobil dan motor konvoi hanya untuk mengantarkan kepulangan kami. Tidak lupa juga mereka memberikan banyak kenang-kenangan berupa gelang besi putih, minyak kayu putih dari Pulau Buru, makanan khas untuk dicoba oleh keluarga kami di Jawa, dan pernak-pernik khas Wakasihu. Tangis haru mengiringi kepulangan saya dan teman-teman ke Pulau Jawa hingga klakson kapal bunyi sebagai tanda kapal akan berangkat, kami semua melambaikan tangan dengan tangis yang belum juga selesai dan berteriak bahwa kami akan kembali lagi suatu hari nanti. Sebuah pengalaman hebat dan tidak akan pernah dilupakan seumur hidup. Terima Kasih Maluku, tugas kami untuk mengabdi dari Tanah Sunda Untuk Tanah Maluku sudah selesai. Sampai jumpa lagi!

Credit : Aini Rahmi Mutia

Leave a Reply

Knowlej.id

Universitas Padjadjaran
Jatinangor
Jawa Barat. Indonesia

Telp : 085725560057

X