Kamis, 18 Juli 2019 – Jakarta, 19.00

    Aku membuka website yang memuat hasil pengumuman dari ujian yang telah kulaksanakan Sabtu lalu. “Selamat, Anda dinyatakan LULUS Ujian Tahap 1… pada program studi Kesejahteraan Sosial”. Aku tercengang. Tidak ada suatu kegirangan yang kukira akan keluar dari diriku. Bagaimana dengan nasib Komunikasi-ku? Bagaimana dengan segala rencana yang telah kususun sedemikian rupa saat aku memasuki Komunikasi? Mengapa aku dikatakan lulus di program studi yang bukan menjadi pilihan pertamaku? Mengapa? Begitu banyak pertanyaan yang hadir di benakku. Masih terheran-heran mengapa aku tidak mendapatkan apa yang sebenarnya kuinginkan, mengapa seolah-olah Tuhan tidak mengizinkanku untuk masuk Komunikasi. Aku menghela napas dengan amat berat. Ingin rasanya untuk tidak melanjutkan ujian tahap kedua yang akan berlangsung 4 hari lagi.

    Ponselku berbunyi, menandakan ada sebuah telepon masuk. Papa. Aku yakin pasti Papa ingin mengabari berita kelulusanku ini. “Halo, Nak!” ucap Papa. “Ya, halo, Pa!” jawabku. “Jadi, gimana Nak? Lulus kah?” tanya Papa. Aku mendesah pelan, “Ya, Pa. Aku lulus, tapi bukan Komunikasi…” Hening sesaat. Aku yakin Papa tahu bahwa anaknya kecewa melihat hasil yang didapatkannya hari ini. “Ya sudah, gak apa-apa, Nak. Setidaknya kamu lulus kan?” Ucapan Papa sama sekali tidak menghiburku. Aku bingung mengapa beliau tetap merasa hal ini sebagai hal yang tidak apa-apa. Ini sama sekali bukan berita yang indah! “Yah… Mau gimana lagi…” balasku berat. “Gak apa-apalah, Nak. Jalani aja dulu ya ujian selanjutnya. Nanti kita lihat perkembangannya lagi gimana. Udah, gak usah sedih lagi. Oke?” hibur Papa. Karena tidak enak dengan usaha Papa untuk menghiburku, aku pun membalasnya dengan pelan, “Oke Pa, terima kasih…” Papa mematikan telepon dan pada saat itu juga, aku tahu bahwa air mataku mulai membasahi pipiku. Sedih rasanya. Aku harus melepaskan Komunikasi, yang telah menjadi jurusan impianku sejak lama…

Senin, 22 Juli 2019 – Gedung Aula FIB Universitas Padjadjaran, 13.00

    Ujian tahap kedua akan segera dilangsungkan. Ya sudahlah… Kulakukan saja semaksimal mungkin ujian kali ini. Ujian dimulai. Setelah 150 menit berlalu dengan 140 soal yang kulahap habis, tubuhku terasa lemas dan otakku panas, hampir meledak. Keluar dari ruang ujian, kulihat Papa yang sudah setia menungguku. Aku menghampiri beliau, yang kemudian disambut dengan seulas senyum. “Bagaimana ujiannya, Nak? Bisa kan?” tanya Papa. “Puji Tuhan, bisa, Pa…” jawabku pelan. “Good.” ucap Papa sambil membelai rambutku pelan. “Masih ada satu tahap… Semangat!”

Selasa, 23 Juli 2019 – Gedung FISIP Universitas Padjadjaran, 11.00

    Papa sudah kembali ke Jakarta, sementara Mama dan kakakku lah yang kemudian menemaniku di ujian tahap ketiga ini. Seluruh tubuhku tegang dan hatiku berdebar begitu kencang karena hari ini aku akan diwawancara oleh enam orang. Astaga! Aku benar-benar takut. Mama terus menyemangatiku, mengingatkan bahwa aku pasti bisa melewatinya.

    Setelah menunggu beberapa antrian, akhirnya tiba saatnya untuk aku beserta teman-teman baru dari jurusanku dan jurusan yang berbeda itu ujian. Yah… Lucu sebenarnya. Aku ada di sini, mengikuti ujian yang bertahap-tahap, sebenarnya untuk memperjuangkan ‘keinginan’ ku untuk masuk ke jurusan Kesejahteraan Sosial ini. Padahal, hatiku jelas terpaut pada Komunikasi. Sebenarnya, mengapa sih aku harus melewati masa-masa ini? Mengapa aku harus memperjuangkan sesuatu untuk hal yang tidak kuminati secara penuh?

    Segala pertanyaan ‘mengapa’ itu kusingkirkan dan aku kembali memfokuskan diri kepada ujian yang sudah semakin dekat, seiring dengan langkah kakiku yang terus membawaku menuju ruangan tempat aku akan diwawancara.

    Selesai wawancara, lagi-lagi, kepalaku seperti berat dan ingin pecah. Mama menyambutku, bertanya-tanya mengenai bagaimana proses wawancaranya, dan di akhir, Mama hanya berkata, “Nah sekarang udah bisa istirahat kan? Yang terpenting kamu udah memberikan yang terbaik yang kamu bisa kan? Yuk kita pulang.” Aku mengangguk dan berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di pintu keluar FISIP.

    Hari-hari berlalu, perlahan diriku mulai melupakan sejenak mengenai ujian dan segala macam hal mengenai perkuliahan. Papa dan Mama mengajakku untuk pergi berlibur ke Bali. Senang bukan main ketika aku pergi ke sana. Ya, setelah kurang lebih dua bulan berkutat dengan buku-buku pelajaran, yang selalu membuatku mumet – padahal sudah banyak bagian yang kuwarnai dengan stabilo warna-warni milikku – aku bisa pergi memandangi pantai dan laut. Suasana Bali ketika aku datang 2016 lalu masih sama seperti tahun ini. Walaupun panas, tetapi semilir angin sejuk tetap terasa. Suasana begitu menenangkan ketika aku berada di sini.

    Dua hari kulalui di Bali dengan penuh rasa senang, namun di satu sisi, aku juga sesekali masih memikirkan bagaimana nasib kuliahku, walaupun beberapa kali pikiran itu teralihkan dengan indahnya Nusa Penida, sengatan mataharinya, dan juga terombang-ambingnya diriku saat naik kapal kembali menuju Pantai Sanur. Sampai tibalah di hari H pengumuman akhir dari ujian yang telah kulakukan selama tiga kali. Sejak pagi, aku tidak dapat tenang, sekalipun Papa dan Mama selalu berusaha untuk menenangkan dan meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pagi, siang, hingga sore berlalu, namun pengumuman itu tak kunjung muncul. Banyak yang mengisukan bahwa pengumuman akan keluar pada malam hari. Namun nyatanya, jam sudah menunjukkan pukul 7, tetapi hasil itu belum keluar. Kami pun sudah lelah menunggu dan kemudian memutuskan untuk pergi ke toko cendera mata yang populer di Bali.

Jumat, 26 Juli 2019 – Pusat Oleh-oleh Krisna Bali, 20.00

    Kami berempat pun akhirnya pergi ke toko ini untuk mencari barang-barang khas Bali yang bisa kami bawa pulang, untuk diri kami dan juga untuk orang lain, seperti keluarga besar dan teman-teman. Lagi-lagi, fokusku teralihkan pada gantungan kunci, tas-tas lucu dan kain selendang khas Bali. Aku terpisah dengan kakak dan Papa, yang sudah menghilang sejak beberapa menit kedatangan kami. Mama masih berjalan di sekitar tempat pakaian yang tidak jauh dariku. Yah, setidaknya aku masih dapat melihatnya secara jelas.

    Jam sudah menunjukkan pukul 9 dan tiba-tiba, aku melihat Papa yang berjalan dengan sedikit cepat menuju ke arah aku dan Mama, yang kebetulan sama-sama sedang memilih kain selendang. “Palingan Papa hanya mau bertanya opini kepada Mama” Jadi, kubiarkan saja sambil masih memilih warna dari kain selendang yang ingin kubeli. Namun, Papa justru mendekat ke arahku dan memelukku. Aku bingung setengah mati. Ada apa?

    “Nak, Nak, kamu lulus, Nak! Kamu masuk Unpad, Nak!” ucap Papa sambil tersenyum lebar. Kurasa itu senyuman terlebar yang pernah kulihat dalam waktu dekat ini. Aku masih diam, speechless rasanya. Senang, haru, bangga bercampur menjadi satu, walaupun tetap ada rasa sedih yang meliputi. “Papa… Makasih.” Aku membalas pelukan Papa sebagai tanda aku senang, menghormati dan berterimakasih atas jasa yang beliau berikan. Mama pun kemudian menyusul untuk memelukku dan memberi selamat. Begitu pula dengan kakak, yang datang beberapa menit kemudian.

    Setelah beria-ria mengenai kelulusan ujian dan berhasilnya diriku masuk ke Universitas Padjadjaran itu, tibalah malam di mana penentuan itu tiba. Malam itu merupakan malam di mana aku harus berpisah dengan program studi yang selama ini menjadi impianku, jurusan di mana aku telah merencanakan banyak hal untuk masa selama perkuliahan hingga pekerjaan nantinya, dan prodi di mana minat terbesarku diletakkan di sana. Aku masih diam, berusaha untuk tidak menangis dan sekeras mungkin untuk ikhlas. Perdebatan masih beberapa kali keluar dari diriku kepada Mama dan Papa. Argument-argument kuat yang sebenarnya bermaksud untuk mempertahankan jurusan Komunikasi pun kulontarkan. Aku bermaksud untuk mengikuti ujian di perguruan tinggi swasta jika memang itu merupakan jalan untukku mencapai jurusan yang kuinginkan. Tentu, semua itu ditentang oleh orang tua ku karena menurut mereka, aku sudah mendapatkan kesempatan untuk belajar di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Selain itu, menurut mereka, aku dapat berkuliah di Unpad merupakan anugerah yang Tuhan berikan kepadaku. Hal tersebut juga merupakan hadiah yang Tuhan karuniakan atas segala usahaku dalam mencapai titik ini. Usaha diriku yang masih bersikeras demi Komunikasi pun tidak ditanggapi oleh mereka. Mungkin inilah saatnya aku merenung.

    Setelah beberapa hari aku merenung, memikirkan nasib diriku sendiri dalam menghadapi perkuliahan, dan beberapa kali berdiskusi dengan kakak, kadang-kadang kepada orang tua juga, akhirnya aku memutuskan untuk menghadap kepada kedua orang tua ku dan membicarakan mengenai perkuliahan ini. Walaupun dengan sedikit berat hati, aku mengatakan bahwa aku siap jika memang aku harus berkuliah di Unpad. Mereka hanya tersenyum sambil berkata, “Tuhan menempatkan kamu di sana bukan suatu kebetulan, Nak. Dia pasti punya rencana yang besar untukmu. Lagipula, kamu gak usah khawatir. Kalau kamu memang mau eksplor Komunikasi, Papa bisa dan izinin kok kalau kamu mau ikut seminar atau beli buku mengenai komunikasi.” Aku masih memandangnya dengan sedikit ragu. “Papa, Mama, yakin aku bisa menjalani kuliahnya dengan baik?” Mereka mengangguk. “Kamu pasti bisa lewatin semuanya dengan Tuhan.” ucap Mama yakin. Aku terdiam. Ya, mungkin ini memang yang terbaik untukku dan masa depan perkuliahanku.

    Kalian tahu apa yang kurenungkan dan kulakukan selama beberapa hari diberi kesempatan untuk memutuskan nasib perkuliahanku? Aku mencari tahu mengenai jurusan itu dan mendapati bahwa komunikasi merupakan salah satu mata kuliah yang akan dipelajari. Hal tersebut menandakan bahwa sekalipun aku tidak belajar full secara total mengenai komunikasi, seperti sejarah, asal-usul, hingga detail mengenai komunikasi, aku tahu bahwa aku tetap akan mempelajarinya di jurusan ini, karena salah satu kunci dari praktik jurusan ini adalah komunikasi nya. Selain itu, sama seperti apa yang Papa telah katakan, aku dapat mempelajari ilmu komunikasi dari berbagai sumber. Bisa dari internet, buku-buku referensi dan seminar. Ditambah lagi, beruntungnya diriku, Papa dan Mama mau untuk memfasilitasiku jika memang aku ingin.

    Namun, lebih daripada itu, aku menyadari bahwa ada sebuah perjuangan keras yang telah orang tua ku berikan kepadaku. Mereka bekerja setiap harinya, mempersiapkan semuanya sejak jauh-jauh hari untuk kehidupan perkuliahanku, dan menginginkan yang terbaik untukku. Semua hanya untuk kebaikan diriku. Aku berpikir bahwa semua orang tua pasti menginginkan segala yang terbaik untuk anaknya dan semua itu karena kasih mereka yang begitu besar. Mengapa aku terus-terusan hanya memikirkan diriku sendiri, sementara orang tua ku? Mereka tidak henti-hentinya memikirkan dan menginginkan yang terbaik untuk anaknya, bukan untuk mereka sendiri. Mereka memikirkan kebahagiaan anaknya, masa depannya, dan juga banyak hal di depan yang mungkin aku sebagai seorang anak masih belum terpikir akan hal itu.

    Selain itu pula, saat sedang merenung, aku teringat akan hari di mana Papa dan Mama tersenyum dan menatapku dengan mata yang berbinar-binar. Aku teringat akan moment di mana Papa dan Mama meneteskan air mata ketika bisa melihat aku berhasil secara akademik. Hal-hal itu menguatkan diriku, membuat semangat dan tekad yang kuat di dalam diriku untuk dapat terus membanggakan mereka. Pada kesempatan kali ini, Tuhan telah menganugerahkan satu pencapaian yang besar untukku. Masa iya aku menyia-nyiakannya? Masa iya hanya karena demi kesenangan dan impian diriku semata aku melepaskannya? Aku tahu bahwa aku ada sampai hari ini karena orang tua ku. Maka dari itu, keyakinan dan damai sejahtera itulah yang mengantarkanku untuk melangkah menuju musim yang baru di dalam hidupku, yaitu kuliah di jurusan Kesejahteraan Sosial, Universitas Padjadjaran. Karena untukku, ada yang lebih penting dari sekadar kebahagiaan diri sendiri, yaitu melihat kedua orang tua tersenyum dengan penuh rasa haru dan syukur.

Credit : Deborah Kristianti

Leave a Reply

Knowlej.id

Universitas Padjadjaran
Jatinangor
Jawa Barat. Indonesia

Telp : 085725560057

X