Senang sekali rasanya bisa diterima di SMA yang aku impikan sejak kecil. SMA yang terkenal dengan segudang prestasinya dan akreditasi A yang kini menjadi bagian dari penilaian SNMPTN. Minggu pertama disekolah impianku terasa sangat seru. Diisi dengan games dari kakak OSIS dan penampilan dari semua ekstrakulikuler yang membuatku kagum dan semakin bersemangat.

    Masa pengenalan lingkungan sekolah telah usai, satu minggu itu terasa sangat menyenangkan. Mengenal teman baru dengan tempat dan suasana yang kuinginkan. Kini tibalah waktunya pemilihan jurusan. “Jurusan itu apa?” Aku sangat kebingungan pada saat itu.

    Senin pagi aku berangkat ke sekolah dengan senyuman yang berbinar karena aku telah diperbolehkan untuk memakai baju seragam putih abu-abu. Hari adalah jadwal untuk memilih jurusan. Di rumah, aku hanya mempersiapkan diri dengan membaca kembali buku pelajaran SMP-ku karena arahan dari kakak OSIS. Rupanya pemilihan jurusan dilakukan dengan tes berupa soal-soal yang harus diisi. Mulai dari pelajaran, PKN, bahasa inggris, bahasa Indonesia, matematika, IPS, dan IPA. Kami juga diberi pilihan jurusan, yaitu bahasa, IPA, dan IPS. Kami hanya diperbolehkan memilih 2 jurusan saja. Dengan pilhan pertama sebagai prioritas. Dan pilihan kedua sebagai opsi jika tidak diterima di pilihan pertama.

    Dengan kebingungan, aku memilih jurusan bahasa untuk pilihan pertama, dan IPA di pilihan kedua. Mungkin ini bisa dibilang kurang tepat , tapi bagiku yang pada saat itu tidak tahu apa itu jurusan, hal itu dorasa tepat karena mengingat aku memiliki kemampuan dalam bahasa inggris, dan aku pun memlih IPA karena aku suka berhitung. Namun jurusan IPA, ku tempatkan di pilihan kedua, yang mana orang bilang bahwa jurusan IPA haruslah berada di pilihan pertama.

    Rupanya hasil tes jurusan selesai pada hari itu juga. Dan aku diterima di jurusan bahasa. Untukku yang pada saat itu tidak mengerti tentang apa itu jurusan, aku tidak merasa bahagia ataupun menyesal karena kupikir jurusan hanyalah pembagian kelas biasa. Pada saat itu juga, aku keheranan kenapa teman-temanku yang diterima di jurusan IPA sangat kegirangan dan senang menerima hal itu. Ada salah satu temanku yang bertanya, “sil kamu masuk jurusan apa?” Tanya ia. Aku jawab, aku masuk jurusan bahasa sambil tersenyum. Namun anehnya, kenapa ekspresinya berubah seakan mengucilkanku, namun aku tetap berusaha untuk berfikir positif.

    Setibanya di rumah, ayahku bertanya “Neng masuk jurusan mana?” Lalu aku jawab, aku masuk jurusan bahasa. Begitu mendengar jawabanku, ekspresi ayah berubah menyeramkan, ia memarahiku karena aku masuk jurusan bahasa. Mau jadi apa kamu masuk jurusan bahasa, kamu seharusnya masuk jurusan IPA blablabla. Disitu lah aku mulai mengerti apa itu jurusan. Sangat telat memang. Keesokan harinya, ayahku seorang yang ambisius, datang ke sekolah untuk memindahkan aku ke jurusan IPA. Namun sayang usahanya nihil, guru BK menyarankan agar aku tetap berada di jurusan bahasa karena beberapa alasan, salah satunya adalah hasil tes ku yang lebih menonjol ke bidang bahasa. Disitu guru BK mencoba meyakinkan ayah bahwa jurusan bahasa tidaklah seperti irang-orang fikirkan. Akhirnya ayah menerima semuanya, walaupun aku merasa sedih telah mengecewakan ayah. Tapi aku berjanji untuk berlajar dengan serius agar bisa membanggakan ayah dalam 5 tahun kedepan.

    Untuk itu aku mengikuti seminar ini agar hal yang sama tidak terulang lagi kepadaku. Aku berterima kasih kepada panitia telah mengadakan kompetisi bercerita pengalaman, aku langsung terfikirkan untuk bercerita pengalaman memilih jurusan pada saat kelas 10. Yang mungkin juga dialami oleh adik-adik lain agar tidak terulang hal yang seperti ini.

Love you ayah.

Rancaekek, 17 November 2019.

Credit : Silffyrabani

Leave a Reply

Knowlej.id

Universitas Padjadjaran
Jatinangor
Jawa Barat. Indonesia

Telp : 085725560057

X