Menurutku kuliah bukan hanya sekadar jalan untuk mendapatkan ijazah, lebih dari itu kuliah adalah sebuah amanah. Maka dari itu, selama tiga semester yang telah kujalani, aku selalu sungguh-sungguh datang ke kelas dan tepat waktu dalam mengerjakan tugas. Ibuku selalu berkata, “Kalau mau nyari uang ya kerja, bukan kuliah”. Dari sana aku pun mulai terbuka dan mengerti apa esensi dari menjadi mahasiswa. 

Awal-awal menjadi mahasiswa baru, pikiranku mungkin sama dengan mahasiswa lain. Kuliah, skripsi-an, lulus, dapat kerja, lalu menikah. Hingga aku pun menyadari betapa liniernya pandanganku tentang dunia perkuliahan. Aku hanya memikirkan soal pencapaianku yang nanti akan didapat setelah masa kuliah berakhir. Tanpa memikirkan tentang hakikat seorang mahasiswa. Bukan mahasiswa jika belajar di kelas sendirian, lulus sendirian, dan sukses sendirian. Ada banyak kepala dan raga yang menjadikan terbentuknya kata ‘mahasiswa’. 

Dua semester telah kujalani dengan lancar. Dan kurasa, di dua semester awal itu sikapku masih terasa individual. Kuliah ya untuk mendapatkan IPK tinggi. Organisasi ya untuk mengisi CV-ku nanti. Hingga di semester tiga ini, aku mulai memiliki banyak teman. Sifat dan tingkah laku mereka sangat beragam. Satu per satu aku pun menjadi tahu watak dari mereka. Aku mencoba lebih terbuka dan berusaha untuk lebih peka. Akhirnya, kepekaanku ternyata menunjukkanku kepada banyak permasalahan. Tak sedikit dari temanku, mereka memiliki masalah kesehatan mental. Aku sendiri sempat mendiagnosis bahwa aku pun memiliki masalah kesehatan mental. Namun, aku tak mau berlarut-larut berprasangka pada diri sendiri, karena nyatanya masalah kesehatan mental teman-temanku jauh lebih buruk. Mungkin aku hanya berlebihan dalam menyikapi sebuah masalah. 

Setelah aku telusuri jauh, ternyata banyak dari teman dekatku yang memiliki masalah mental yang cukup parah. Kemudian mereka mencoba meringankan beban dengan cara self harm. Self harm adalah upaya melukai diri sendiri untuk keluar dari permasalahan dan membuat diri mereka menjadi merasa nyaman. Awalnya aku terkejut mendengar apa yang mereka lakukan, tetapi setelah tahu alasan-alasan mereka melakukan itu, aku sendiri tidak bisa mencegah atau memberi saran.

Akhirnya aku pun menyadari, bahwa di masa kuliah ini ternyata aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh hanya memikirkan bagaimana agar aku bisa sukses. Sebagai manusia, aku tidak bisa menutup sebelah mataku dari permasalahan-permasalahan temanku. Dalam benak aku ingin sekali membantu mereka untuk keluar dari perlakuan menyakiti diri sendiri itu. Namun itu cukup sulit, karena adanya perbedaan persepsi. Terlebih saat ada salah satu dari mereka yang berkata bahwa aku tidak boleh mengetahui masalah mereka. 

Memang, sebagai mahasiswa, kami banyak memiliki beban. Mulai dari masalah kuliah, organisasi, pertemanan, dan masih banyak lagi. Tak aneh jika mahasiswa selalu merasa tertekan. Bagi diriku sendiri, hakikat seorang mahasiswa bukan hanya sekadar untuk memenuhi tuntutan. Karena nanti apa bedanya mahasiswa dengan pelajar? Kalau mahasiswa hanya berusaha memenuhi tuntutan dan akhirnya tertekan itu sebuah kesalahan. Mahasiswa adalah jelmaan manusia yang bisa dibilang berpendidikan dan berperikemanusiaan. 

Untuk keluar dari masalah itu, aku mencoba untuk membuat sebuah karya. Karya itu aku dedikasikan untuk mereka yang sedang terluka. Selama semester tiga ini, aku memanfaatkan kemampuan menulisku untuk membuat tulisan motivasi ala kadarnya. Setiap satu minggu sekali, aku posting tulisanku di instagram dan untuk tulisan yang kubuat mendadak, aku hanya bagikan di instastory atau pun twitter. 

Tujuan besarku menulis adalah untuk berbagi perasaan. Aku ingin menunjukkan kepada mereka yang sedang terluka, bahwa mereka tidak merasakannya sendirian. Alhamdulillah, lewat tulisan-tulisanku itu, ada beberapa yang berkomentar dan mengucapkan terima kasih atas tulisannya. Berkat tulisanku, ada sebagian dari mereka yang mulai terbuka untuk bercerita, dan akhirnya mereka menjadi merasa sedikit lega. Lega dari permasalahan-permasalahan yang mereka derita. 

Menurutku, masa-masa menjadi mahasiswa tidak seru jika hanya berfokus pada IPK saja. Mahasiswa akan menjadi besar jika mereka memiliki karya. Terlebih jika karyanya bertujuan untuk kebaikan dan untuk mengingatkan. Oleh karena itu, hari ini aku sedang berusaha membuat banyak karya di setiap saat.  Untuk akhirnya bisa membuatku merasa kalau aku bisa menjadi seorang mahasiswa yang bermanfat. Karena menurutku esensi menjadi mahasiswa adalah ya untuk banyak berbuat, memberi manfaat dan saling meluruskan niat.

Credit : Iqbal Rohim Alfarizi

Leave a Reply

Knowlej.id

Universitas Padjadjaran
Jatinangor
Jawa Barat. Indonesia

Telp : 085725560057

X